Keluarga Bahagia

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (QS. Al-Hasr ; 21)

Oleh : Ridwan

Visi menentukan orientasi, ungkapan sederhana namun akan selalu melekat dalam menjamin keterarahan hidup manusia. Visi ibarat jarum kompas kehidupan yang dengannya terang benderanglah arah jarum jam kehidupan. Oleh karena itu sedari awal ketika manusia akan diciptakan, Allah Subhnahu wa Ta’ala telah menetapkan visi dari tujuan penciptaan mahluk-Nya yang dengan narasi hidup di dunia menjadi jelas. Maka untuk menentukan rumusan sukses dan gagal atau bahagia dan kecewanya manusia dalam menjalani hidup di dunia ini berbanding lurus dengan visi utama penciptaannya. Allah Ta’ala narasikan semuanya ini dalam untaian ayat-Nya yang mulia, “Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS. At-Thur : 56).

Sebagai mahluk yang terdiri dari unsur materi dan ruhani, manusia acapkali keliru dalam mengenali jenis kebutuhan jenis yang wajib dipenuhi bagi dirinya sendiri, mayoritas orang berpandangan bahwa harta meupakan sumber muara utama kehidupan, menariknya  kita cermati untaian firman ilahi dalam al-Qur’an yang suci, terdapat sebuah ungkapan yang mana kita layak untuk dikatakan berbahagian di hadapan Allah Ta’ala, sebagaimana yang tertuang dalan firman-Nya berikut ini,

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus : 57-58).

Dari untaian ayat di atas disebutkan bahwa seorang manusia layak dikatakan bahagia bilamana hadirnya dua factor pemicu dalam kehidupannya, yakni hadirnya “karunia’ dan “rahmat” Alloh Ta’ala, terkait hal ini sebagian ulama salafus sholih seperti sahabat Abu Sa’id al khudri -semoga Alloh meridhoinya- menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan karunia Alloh Ta’ala di sini maknanya adalah turunnya al-Qur’an al-karim, sementara yang dimaksud dengan kata “rahmat” adalah hidayah Allah Ta’ala yang menjadikan jiwa dan hati kita terikat dengan al-Qur’an, yakni berusaha keras untuk selalu membaca, menghapal, mentadaburi, serta mengamalkan apa yang terkandung dalam kitab suci tersebut. Sehingga apabila ada di antara kita yang menjadi generasi pecinta dan penghapal al-Qur’an, maka diri kita ini termasuk keluarga dan anak keturunan kita merupakan manusia ideal yang layak merasakan kebahagiaan yang hakiki di sisi Allah Ta’ala. Oleh karena itu sangatlah besar apresiasi yang Allah Ta’ala berikan kepada para pecinta al-Qur’an, hingga mereka disebut-sebut sebagai keluarga-Nya di muka bumi ini. Sabda rasululloh -shalallahu alaihi wa sallam-,

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’  Rasululloh -shalallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah?.’ beliau kemudian menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Inilah esensi kebahagiaan yang hakiki, bahagia yang tolak ukurnya bukan kita selaku manusia yang membuat ukurnya, melainkan Sang pencipta yang menegaskan standar bakunya, maka berbahagialah bagi setiap jiwa yang punya perhatian untuk selalu akrab bercengkrama dengan al-Qur’an, berbahagia pula setiap ayah dan bunda ketika mendapati anaknya di sela-sela waktunya belajar dan bertilawah al-Qur’an, sebuah peristiwa yang akhir-akhir ini jarang terdengar di sebagian keluarga muslim.

Di masa kini banyak kita temukan tipikal keluarga yang dis-harmonis, anak keturunan mereka salah dalam bergaul, sementara di rumah yang mereka temukan adalah teriakan sepasang ayah ibu yang saling menyalahkan, keluarga tidak lagi menjadi area yang nyaman bagi anak untuk saling berbagi asah asih dan asuh, keluarga seperti inilah yang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Oleh karena itu membentuk keluarga Qur’ani di era modern yang penuh dengan fitnah ini merupakan sebuah keharusan agar kita bias selamat di dunia dan akherat. Oleh karena itu bersegeralah memastikan agar kita serta anak keturunan kita masuk dalam barisan para pecinta al-Qur’an, sehingga bias menyelamatkan keluarga kita dari fitnah dunia yang ada, sekaligus berusaha masuk surge Bersama anggota keluarga kita. Firman Allah Ta’ala,

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. At-Thuur : 21).

Sebagaimana pula disebutkan bahwa akan ada hadiah terbaik untuk kedua orangtua di akhirat kelak ketika dianugerahi keturunan yang mencintai al-Qur’an. Disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.” WaAllahu A’lam bisshowab.

Tags: No tags