Rindu

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah men cintaimu dan mengampuni dosa-dosa mu.’ Allah Maha Pengam pun, Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31)

Oleh : Ridwan

Merindukan Nabi Muhammad -Shalallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang, karena perasaan rindu adalah tanda cinta. Oleh karena penting diperhatikan permohohan atau berdo’a kepada Allah Ta’ala agar kita dipertemukan dengan Rasul-Nya di surga kelak.

Dalam kajian ilmu hadits dikenal ada istilah “Mukhadram” yakni mereka yang hidup se-jaman dengan Rasululloh -shalallahu ‘alaihi wa sallam-, akan tetapi tidak sempat bertemu dengan beliau, sebutlah salah satu nama adalah Abu Abdillah AsSunabihi -semoga Allah Ta’ala merahmati beliau-, tercatat sebagai mukhadram yang berasal dari Yaman, masuk Islam di tangan sahabat nabi yang bernama Muadz ibn Jabal -semoga Allah meridhoinya-, kerinduan mendorongnya untuk datang ke Madinah, setibanya di Madinah beliau mendapati kabar bahwa Rasululloh baru saja wafat 5 hari sebelumnya, maka sungguh tidak terbayangkan bagaimana perasaan sedih pilu ketika tidak sempat dipertemukan sang utusan Allah.

Bicara rindu, maka tidak ada di antara mahluk ciptaan Allah Ta’ala yang paling merindukan kita melebihi kerinduan Sang rasul, betapa tidak di kala detik-detik terakhir kewafatannya tiba, nama yang disebutkan bukanlah terbatas kepada keluarga maupun sanak familinya, akan tetapi seluruh umatnya yang beliau sebut, hal yang mengisyaratkan bahwa cinta kasih beliau kepada umatnya begitu tulus dan tidak terukur atas dasar nilai kemanusiaan apapun.  Adalah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik disebutkan bahwa pada saat tanda-tanda sakit mulai terlihat pada diri Rasulullah, beliau bersabda, “Aku ingin mengunjungi syuhada perang Uhud.” Beliau berangkat dan berdiri di atas kubur mereka dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului, kami, insya Allah, akan menyusul kalian dan aku pun insya Allah akan menyusul kalian.” Pulang dari sana Rasulullah menangis, mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.” Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukan kalian yang saya maksud, melainkan mereka adalah kaum yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku dan tidak melihatku.”

Sungguh besar dan begitu agung cinta Rasululloh kepada kita, namun adakah perasaan rindu dan cinta itu hadir dalam ingatan kita?, rindu dan kangen ingin bertemu sosok yang merindui kehadiran kita semua disisinya. Semoga saja masih tersisa ruang dalam pikiran kita untuk selalu meminta kepada Allah Ta’ala agar kelak kita semua dikumpulkan dengan beliau di surga firdaus nanti. Pentingnya mengajarkan kerinduan kepada Sang rasul, selanjutnya mari kita baca 2 kisah berikut ini semoga menginspirasi kita agar kerinduan ini senantiasa ada.

Dikisahkan ada seorang sahabat nabi yang meminta ingin dido’akan agar ia diperkenanakan bisa menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga, bagi yang bersangkutan sekedar masuk surga saja tidaklah cukup, namun ingin lebih dari itu bisa diijinkan kumpul bareng dengan rasululloh. Dialah Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami -semoga Allah meridhoinya-, beliau berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim, no. 489).

Ada juga kisah yang menarik patut kita membacanya, cerita tentang rindunya sebuah pohon kurma kepada Rasululloh -shalallahu ‘alaihi wa sallam. Peristiwa ini memberikan pesan serta kesan yang mendalam terkait pentingnya memendam rindu kepada Sang kekasih Allah Ta’ala.  Kisah  ini dituturkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah  -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang hamil, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari).

Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani -semoga Allah merahmatinya- berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama memahaminya secara tekstual. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)

Terkait peristiwa di atas Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Kitab Fath Al-Bari, 6: 603).

Selanjutnya dalam kitab yang sama, Imam An-Nawawi berkomentar,  “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu ingin bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Kitab Fath Al-Bari, 6: 697).

WaAlahu a’lam bisshowab.

 

Tags: No tags