Warisan, Harta Gratisan Yang Diperebutkan

“Pelajarilah Ilmu Faraidh (Ilmu Tentang Pembagian Warisan) serta ajarkanlah kepada yang lain, karena sesungguh ia adalah setengah bagian dari khazanah ilmu, dan kelak suatu saat nanti ia akan dilupakan, dan ia merupakan ilmu yang pertama kali Allah cabut dari urusan umatku” (HR. Ibnu Majah dan Al-Daruquthni)

Oleh : Ridwan

Telah menjadi ketentuan Allah Ta’ala bagi seluruh umat manusia bahwa kehidupan dunia tidaklah abadi, suka atau tidak suka kita semua pasti akan meninggalkan seluruh pernak-pernik dunia ini, berikut seluruh harta dan aset investasi yang selama ini kita bangun serta perjuangkan selama hidup, sehingga ketika kematian sudah menjemputkan maka harta yang ia cintai akan berpindah kepemilikan ke tangan orang lain yang merupakan ahli warisnya. maka hendaklah setiap diri sadar bahwa harta sesungguhnya ialah harta yang kita investasikan untuk kehidupan akherat, bukanlah harta yang diinvestasikan di dunia, karena boleh jadi sebelum harta yang kita akui sebagai milik pribadi, boleh jadi tidak sempat dinikmati dan justru berpindah tangan seiring kematian itu tiba. Maka sudah menjadi ketentuan yang wajib untuk dilaksanakan oleh setiap mukmin lakukan, di kala si pemilik harta itu wafat, ada beberapa amalan yang priortias kita tunaikan secara langung dan tidak boleh diakhir-akhirkan, amalan tersebut ialah membayar hutang si mayat, mengurus perawatan jenazahnya dari mulai memandikan, mengkafani, menshalati sampaikan dengan menguburkannya, selanjutnya amalan yang lain adalah tunaikan wasiatnya, serta bagikan segera harta warisannya kepada yang berhak menerimanya.

Sungguh banyak fakta menarik di balik berpindahnya hak kepemilikan harta dari si pemiliknya asasi yang kini sudah meninggal dunia kepada ahli warisnya selaku manusia yang paling dekat kekerabatannya dengan si almarhum, fakta menariknya adalah banyak di antara kaum muslimin hari ini yang tidak menyukai untuk dilakukan pembagian warisan dengan cara yang telah Allah Ta’ala tetapkan melalui hukum warisnya, padahal semua sudah mengetahui bahwa warisan itu merupakan HARTA GRATISAN yang mereka dapatkan tanpa perlu bekerja keras, harta ini tiada lain merupakan pemberian Allah Ta’ala secara cuma-cuma kepada mereka, namun sayangnya ketika harta itu diberikan, mereka mau menerimanya bahkan mungkin dengan perasaan yang suka cita, namun giliran diatur pembagiannya oleh Sang Pemberi rezeki yakni Allah Ta’ala, justru mereka menolaknya, sungguh banyak manusia yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu karena disebabkan oleh kecintaan kepada kenikmatan dunai yang berlebih-lebihan. Oleh karena itu dalam aturan syari’at Islam, Allah Ta’ala ingatkan terkait wajibnya ketaatan serta tunduk patuh dalam menunaikan hukum waris yang telah ditetapkan-Nya. Allah Ta’ala ingatkan bagi siapa yang mentaatinya maka surga yang abadi di dalamnya, dan siapa orang yang mengingkarinya maka neraka jahanam yang  kekal di dalamnya, sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya yang suci :

“(Hukum-hukum waris tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisaa’: 13-14)

Terkait ayat di atas, Imam Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya, “Berbagai ketentuan dan ukuran ini yang dijadikan Allah untuk ahli waris sesuai dengan kekerabatan mereka kepada mayit dan kebutuhan mereka kepadanya serta rasa kehilangan mereka dengan kepergiannya; merupakan batas-batas yang ditetapkan Allah. Maka janganlah kalian melampaui batas atau melanggarnya.”

Di masa jahaliyah dulu terdapat sebuah pola pikir yang hampir mirip dalam paradigma masyarakat modern hari ini yang tidak sedikit menentang aturan syari’at prihal pembagian warisan ini. Dalam aturan masyarakat jahiliyah terdapat aturan bahwa harta warisan hanya akan dibagikan kepada kalangan laki-laki dewasa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan almarhum, dan tidak dibagikan kepada anak kecil dan kalangan perempuan dengan alasan keberadaan mereka semua dianggap sebagai beban keluarga saja, berbeda dengan kalangan laki-laki dewasa yang dianggap mewakili keberadaan almarhum disebabkan keahlian mereka dalam menunggang kuda dan melakukan peperangan untuk menghasilkan harta rampasan perang yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga, sebagaimana dalam hal ini Imam Ibnu Jarir berkata dalam kitab tafsirnya, “Tersebutlah dalam aturan Jahiliah bahwa mereka tidak akan pernah memberikan warisan kecuali hanya kepada orang yang berperang membela kaumnya, atau memberikannya kepada anak yang tertua dan yang lebih tua lagi.”

Dalam riwayat Imam Ibnu Jarir dan Imam Ibnu Hatim disebutkan bahwa ketika Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya prihal aturan waris, tidak sedikit di kalangan masyarakat Arab waktu itu berkomentar, “Wanita diberi seperempat atau seperdelapan dan anak perempuan diberi setengah serta anak lelaki kecil pun diberi bagian, padahal tiada seorang pun dari mereka yang berperang membela kaumnya dan tidak dapat merebut ghanimah (rampasan perang).” Akan tetapi, omongan mereka ini didiamkan saja; barangkali Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- melupakannya atau kita katakan kepadanya, hingga mereka berkata kepada Rasululloh, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau memberikan bagian warisan kepada anak perempuan separo dari harta yang ditinggalkan ayahnya. padahal ia tidak dapat menaiki kuda dan tidak pula dapat berperang rnembela kaumnya?” Bahkan anak kecil pun diberi bagian warisan padahal ia tidak dapat berbuat apa-apa.”

Terdapat perkara yang wajib kita pahami prihal aturan pembagian waris dalam Islam, dalam hal ini Alla Ta’ala mengatur sistem pembagian waris tidak didasari atas azas manfaat yang dirasakan oleh keluarga ketika hadirnya kaum laki-laki yang sangat dominan dalam kehidupan keluarga, akan tetapi pembagian ini di atur atas dasar aturan kekerabatan seorang manusia yang paling dekat hubungan darahnya dengan almarhum, maka seorang perempuan atau anak kecil meski tidak memiliki peran yang sentral di keluarga, namun ketika ia punya hubungan darah yang paling dekat dengan almarhum, maka ia termasuk ke dalam kategori ahli waris yang paling berhak mendapatkan warisan.

Hari ini tidak sedikit manusia yang menolak aturan Allah Ta’ala, dengan alasan meraka yang paling mengerti urusan harta warisan itu, seolah mereka yang paling bijaksana mengatur harta peninggalan almarhum, dan menganggap aturan ilahi sebagai aturan yang tidak adil dan merugikan banyak pihak, sehingga harus ditinggalkan dan dicampakkan !. Di sisi lain tidak sedikit orang tua yang berinisiatif membagikan hartanya sebelum wafat, sebagai bentuk kekhawatiran jikalau anak-anak mereka bertengkar hanya disebabkan harta peninggalan orangtuanya. Maka disadari atau tidak, meski bentuk perbuatan bagi-bagi harta sebelum meninggal ini terkategorikan jenis amalan yang mubah, namun secara tidak langsung praktek seperti ini merupakan tindakan yang mengabaikan aturan waris yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala, dan secara tidak disadari amalan seperti ini adalah cara terhalus meninggalkan hukum waris yang telah ditetapkan-Nya.

Tidak sedikit pula sebagian di antara masyarakat kita yang menunda-nunda proses pembagian warisan hanya dengan alasan menunggu harga rumah atau tanah peninggalan almarhum agar naik harganya dulu, sehingga uang pembagian warisannya lebih banyak dari yang ada, maka sungguh ini merupakan tindakan konyol dan dzolim, sebab boleh jadi sebelum rumah atau tanah warisan itu laris di jual, bisa jadi ada di antara ahli waris yang berhak mendapatkan jatahnya lebih dahulu meninggal dunia sebelum harta warisan itu bisa terjual dan bisa dinikmati selama hidupnya, sebab tiada yang menjamin panjang dan pendeknya umur manusia kecuali hanya Allah Ta’ala. Oleh karena hendaklah setiap diri menyadari bahwa warisan termulia bukanlah harta peninggalan yang banyak, namun warisan teragung adalah anak-anak sholeh hasil didikan orangtua mereka yang taat kepada aturan Allah Ta’ala, mau menegakkan aturan warisnya dengan penuh keimanan, keridhoan serta keikhlasan mendapatkan bagian warisan sekecil apapun selama ketetapan bagian ini adalah kehendak Allah Ta’ala yang ditegaskan dalam aturan hukum warisnya.

WaAllahu A’lam bisshowab.

Tags: No tags